Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

AS Tantang China, Kirim Pesawat dan Kapal Perang

Berita Militer Internasional-Pentagon tengah mempertimbangkan, pengiriman pesawat-pesawat dan kapal perang Amerika Serikat (AS) ke Laut China Selatan, dekat kepulauan Spratly yang diperebutkan antara China dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Dilansir dari Reuters, Rabu, 13 Mei 2015, Menteri Pertahanan Ash Carter meminta opsi, meliputi pengiriman kapal dan pesawat militer AS dalam jarak 12 mil laut dari karang-karang di kepulauan Spratly.

Langkah AS itu dipastikan bakal menjadi tantangan langsung terhadap China. Belum ada tanggapan dari Pentagon dan Gedung Putih, atas laporan yang pertama kali dipublikasi Wall Street Journal.

Juru bicara kedutaan besar China, Zu Haiquan, mengatakan China memiliki kedaulatan yang tidak terbantahkan atas kepulauan Nansha, nama yang digunakan China untuk kepulauan Spratly.

Dia mengatakan China berharap pihak-pihak, diyakini merujuk pada AS dan negara lainnya, dapat menghormati komitmen untuk tidak berpihak dalam sengketa Laut China Selatan, serta menahan diri untuk tidak menambah ketegangan.

Pengiriman kapal dan pesawat ke Spratly, akan mengulang langkah militer AS pada 2014 dengan operasi 'Navigasi Bebas', untuk menantang klaim maritim dari 19 negara, termasuk China.

Jepang dan AS mengecam China pada 2013, karena menerapkan zona indentifikasi pertahanan udara (ADIZ) di Laut China Timur, di mana pesawat-pesawat harus mengidentifikasi diri pada otoritas China.

AS merespon dengan menerbangkan pesawat pembom B-52 melalui zona itu, dalam upaya unjuk kekuatan.

Senin, 11 Mei 2015

China-Rusia Gelar Latihan Tempur di Laut Hitam

Berita Militer Internasional- Dua kapal tempur China dikabarkan akan terlibat dalam latihan perang bersama dengan Angkatan Laut Rusia. Keduanya disebut-sebut akan melakukan latihan milliter bersama di wilayah Laut Hitam.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dilansir Russia Today pada Jumat (8/5/2015) dua kapal perang China, yakni Linyi dan Weifang akan tiba di pelabuhan Novorossiysk hari ini. Sebelum melakukan latihan perang bersama, kedua kapal perang itu akan terlebih dahulu terlibat dalam parade peringatan 70 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi.


"Rencananya kedua kapal itu akan meninggalkan Novorossiysk pada 12 Mei dan menuju ke sebuah willayah di sekitar Laut Mediterania untuk menggelar latihan bersama dengan militer Rusia," kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Latihan perang, yang merupakan bagian dari kerjasama militer China-Rusia akan berlangsung setidaknya selama 10 hari. "Latihan bersama ini akan digelar mulai tanggal 11 hingga tanggal 21 Mei mendatang," sambungnya.

"Tujuan latihan perang ini adalah untuk mempererat persahabatan kedua negara," tambahnya. Sementara itu, patut diketahui, ini pertama kalinya kapal milik Angkatan Laut China memasuki kawasan Laut Hitam yang merupakan basis militer Rusia.

China Kembangkan Senjata Anti-Satelit, AS Terancam

Berita Militer Internasional-Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengungkap laporan bahwa China telah mengembangkan senjata laser dan senjata anti-satelit. Kemajuan pesat China itu membuat sistem satelit AS merasa terancam.

Dalam laporannya kepada Kongres AS, China juga disebut telah membangun infrastruktur tanah yang luas untuk membangun peluncur dan pengongtrol satelit.


Laporan ini menandai dorongan terakhir pejabat militer AS untuk menyoroti meningkatnya ancaman terhadap sistem satelit AS. Kekhawatiran mereka membuat pemerintahan Presiden Barack Obama mengusulkan anggaran belanja ketahanan militer US$5 miliar untuk lima tahun ke depan.

Pada bulan Oktober 2014, China telah meluncurkan 16 pesawat ruang angkasa yang telah dilengkapi sistem komunikasi satelit dan sistem pengawasan. Hal itu termasuk satelit pertama yang menyediakan citra resolusi yang sangat tinggi.

Laporan ini memberikan rincian baru tentang apa yang disebut teknologi "counterspace" China. ”Pemerintah AS memberikan rincian lebih lanjut tentang kegiatan ‘counterspace’ China daripada yang mereka miliki di masa lalu," kata Brian Weeden dari lembaga nirlaba Secure World Foundation.

“Pentagon jelas semakin khawatir tentang kemampuan China yang tumbuh pesat dan kemampuan counterspace-nya,” lanjut Weeden, seperti dilansir Reuters, Sabtu.

Rayakan Berakhirnya PD II, Rusia Boyong Pasukan ke China

Berita Militer Internasional-Militer Rusia menyatakan akan memboyong ribuan pasukan ke China pada September mendatang. Rusia akan terlibat dalam perayaan berakhirnya Perang Dunia II yang diadakan di Beijing, China.

Pengiriman pasukan ini juga merupakan balasan atas kehadiran pasukan China di peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi pada akhir pekan lalu atau yang dikenal dengan V-day.


Kepastian terlibatnya pasukan Rusia dalam parade di China disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu. Seperti dilansir Sputnik pada Senin (11/5/2015), Shoigu mengatakan, pihaknya sangat senang ketika mendapat undangan tersebut dari Menteri Pertahanan China Chan Wanquan. Undangan tersebut disampaikan oleh perwakilan China saat peringatan V-day.

"Kami sangat senang mendapat undangan dari Menteri Pertahanan China untuk ambil bagian dalam perayaan berakhirnya Perang Dunia II pada 3 September tahun ini. Kami sepakat untuk mengirimkan Pasukan Bersenjata Rusia untuk ikut dalam parade militer,” ucap Shoigu.

Di kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan Rusia itu juga mengucapkan rasa terimakasihnya atas partisipasi militer China dalam perayaan V-day tahun ini, yang kerap disebut-sebut yang terbesar dalam sejarah pagelaran parade tersebut.

Rabu, 29 April 2015

Manuver Gabungan Cina-AS

Irib - Berdasarkan laporan berbagai media, angkatan laut Cina dan Amerika Serikat di akhir kerjasama militer mereka menggelar latihan perang bersama. Dalam hal ini, situs penerangan Departemen Pertahanan Cina dalam sebuah laproannya menyebutkan, di latihan militer gabungan yang digelar Ahad (26/4), dilibatkan pula dua kapal perang Amerika dan Cina di Laut Cina Selatan.




Manuver gabungan ini ditujukan untuk operasi pencarian di laut, penyelamatan dan membantu korban kapal yang mengalami musibah. Dilaporkan pula bahwa pemulihan hubungan keamanan Cina dan Amerika juga termasuk dari tujuan manuver gabungan ini.


Manuver gabungan antar berbagai negara atau dua negara biasanya bisa terwujud ketika hubungan bilateral sampai pada level positif, di mana latihan militer gabungan menjadi sebuah urgensitas. Manuver gabungan Cina dan Amerika yang digelar di Laut Cina Selatan patut untuk direnungkan. Pekan lalu, digelar latihan militer gabungan besar-besaran antara Amerika Serikat dan Filipina di Laut Cina Selatan dengan melibatkan 12 ribu militer kedua negara.

Laut Cina Selatan merupakan lokasi sengketa antara Cina dan Filipina terkait kepemilikan Kepulauan Spratly. Selain itu, Amerika dengan tujuan memperkuat kemampuan militer Filipina untuk menghadapi militer Cina telah bersedia menggelar latihan militer gabungan tersebut.

Sepertinya tujuan AS dan Cina menggelar latihan militer gabungan ini selain untuk memulihkan hubungan keamanan kedua negara, juga sebagai bentuk tolok ukur kemampuan militer masing-masing. Artinya kedua negara akan memiliki prediksi tepat terkait kemampuan militer masing-masing.

Dengan demikian jika diterima bahwa kubu Demokrat yang berkuasa di Amerika sampai saat ini masih menganggap Beijing sebagai mitranya, maka analisa masalah ini tidak terlalu sulit. Selama beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi dan ekonomi di Cina termasuk di bidang pertahanan dengan sendirinya menunjukkan bahwa Beijing akan berubah menjadi rival serius Washington di bidang teknologi militer luar angkasa.

Selama bulan Agustus 2014, angkatan udara Cina telah menguji coba rudal di luar angkasa. Rudal ini mampu menghancurkan satelit militer yang aktif dan berada dekat dengan atmosfir bumi. Sementara itu, pakar strategi Rusia meyakini bahwa menghancurkan satelit musuh melalui rudal di luar angkasa hanya bagian kecil dari operasi militer Cina. Padahal Cina memiliki teknologi untuk menghancurkan satelit melalui jalur lain.

Pengamat ini mengatakan, Cina dengan mengirim satelit mikro ke arah musuh, mampu melumpuhkan satelit musuh.

Seorang pengamat senior bidang hubungan internasional di Akademi Sains Rusia mengatakan, AS menfokuskan aktivitas luar angkasanya untuk melancarkan operasi militer dan spionase.

Meski demikian AS berulang kali menyatakan kekhawatirannya atas masuknya rival di sektor senjata modern dan bidang luar angkasa. Hal ini tentu saja akan mengakhiri monopoli AS di perang luar angkasa.

Meskia danya prediksi dan analisa pengamat militer Rusia atas kemampuan militer Cina di bumi dan luar angkasa, Beijing sampai saat ini masih tertinggal sedikit dengan AS di sektor militer. Namun disebutkan bahwa Cina tidak membutuhkan waktu lama untuk mengejar ketertinggalannya tersebut.

Sementara itu, hubungan militer Cina-AS semakin dingin mengingat tekad Amerika menjual senjata modern kepada Taiwan, intervensi di Laut Cina Selatan dan Timur, serta latihan militer gabungan dengan Korea Selatan di perairan kawasan. Oleh karena itu, manuver gabungan Cina dan AS ini hanya dapat dicermati sebagai bagian kecil dari upaya untuk memulihkan hubungan militer serta menghangatkan hubungan bilateral Beijing-Washington.

Minggu, 26 April 2015

Pesawat Militer Filipina Merasa Ditantang Kapal Perang China

Sindo - China menyiagakan kapal perangnya di kawasan Laut China Selatan yang disengketakan. Pihak militer Filipina merasa pesawat militer mereka yang melakukan patroli di kawasan sengketa itu telah ditantang kapal perang China yang menyorotkan lampu ke atas.


Sinyal tantangan dari kapal perang China itu disampaikan sumber militer Filipina. ”Sebuah pesawat Angkatan Udara Fokker ditantang oleh sebuah kapal China. (Kapal) China bertujuan menyalakan cahaya kuat terhadap apa pun yang terbang di atas wilayah sengketa,” kata seorang pejabat Angkatan Udara Filipina, yang menolak disebutkan namanya karena ia tidak diizinkan untuk berbicara kepada pers.

”Kami menganggap bahwa ini sebagai tantangan, tapi pesawat kami pergi dengan misinya. Ia sedang melakukan patroli maritim,” lanjut pejabat militer Filipina itu, seperti dikutip Reuters, Jumat (24/4/2015).

Ini adalah pertama kalinya sebuah kapal perang China memberikan memperingatkan terhadap pesawat Filipina yang berpatroli di Laut China Selatan. Petugas militer Filipina lainnya yang juga menolak disebut namanya, mengatakan kepada Reuters bahwa, pesawat Angkatan Udara Filipina telah terbang setinggi 1.500 meter di atas pulau karang yang diduduki China.

Sementara itu, juru bicara militer Filipina, Brigadir Jenderal Jose Kakilala, berupaya meredam ketegangan tersebut. Menurutnya, lampu kapal perang China kemungkinan tidak ditujukan terhadap pesawat Fokker Filipina yang melakukan patroli. Namun, dia menolak berkomentar lebih lanjut soal insiden itu.

China telah mengklaim sebagian besar kawasan Laut Cina Selatan. Namun, klaim itu ditentang Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Taiwan.

Jumat, 17 April 2015

Ini Kapal Perang China yang Jadi Momok bagi AS

Sindo - Angkatan Laut China telah memiliki kapal perang baru yang dianggap menjadi momok bagi Amerika Serikat (AS). Kapal berbahaya yang dilengkapi rudal supersonik itu bernama Luyang III.

Sebuah laporan terbaru dari Office of Naval Intelligence (ONI) telah mengkonfirmasi klaim Pemerintah China.”Bahwa kapal Luyang III merupakan tipe terbaru yang dilengkapi dengan rudal YJ-18ASCM (anti-kapal pesiar) yang bisa diluncurkan secara vertikal,” bunyi laporan ONI, Rabu (15/4/2015).



Kapal perang China dengan rudal supersonik itu menurut ONI menjadi gambaran tentang perkembangan kehebatan dari Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China.

Sejauh ini, kapal Luyang III—yang juga dikenal sebagai kapal perusak 052D— hanya ada satu di dunia ini. Namun, China telah menyatakan rencananya untuk memiliki lebih dari 10 kapal sejenis itu untuk dioperasikan pada 2017.

”Rudal ini, adalah ancaman utama bagi Angkatan Laut AS,” kata Lyle J. Goldstein, seorang profesor di China Maritime Studies Institute at the United States Naval War College, kepada New York Times. ”Peningkatan besar dalam hal kecepatan membuat rudal jarak jauh lebih sulit untuk dicegat.”

Dalam laporannya, ONI juga menyatakan, rudal seperti itu juga akan digunakan pada kapal selam China, Song-classes, Yuan-classes, dan Shang-classes. ”Semua orang yang serius tentang pemahaman kemampuan militer China harus membiasakan diri dengan rudal ini,” imbuh Andrew Erickson, profesor di US Naval War College di Rhode Island.

Jet Tempur China dan Rusia Acak-acak Langit Jepang

Sindo- Angkatan Udara Jepang mengatakan, pesawat jet tempur Rusia dan China mengacak-acak langit atau wilayah udara Jepang. Bahkan manuver pesawat jet tempur dua negara besar itu disebut Jepang telah meningkat tajam sejak Perang Dingin tiga dekade silam.

Pesawat jet pembom Rusia disebut beraksi di langit utara, sedangkan pesawat jet tempur China bermanuver di wilayah udara selatan Jepang.



Angkatan Pertahanan Diri Jepang menyatakan, pada tahun ini sampai dengan 31 Maret, pesawat jet tempur Jepang tercatat melakukan aksi 944 kali untuk menghalau manuver pesawat jet tempur dua negara besar itu.

Angka itu meningkat 16 persen pada tahun lalu untuk periode yang sama. Itu adalah jumlah tertinggi kedua dari data yang dicatat sejak tahun 1958. ”Ini merupakan peningkatan yang tajam,” bunyi pernyataan Angkatan Pertahanan Diri Jepang (SDF) yang disampaikan seorang juru bicara, dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/4/2015).

SDF tidak merinci secara khusus manuver masing-masing dari mliter Rusia dan China di dekat wilayah pertahanan udara Jepang. Hanya saja, pesawat jet tempur China disebut lebih serang terbang melalui wilayah udara Jepang menuju Pasifik Barat.

Selama ini, Jepang dan China bersitegang soal klaim pulau di Laut China Timur. Sedangkan dengan Rusia, Jepang bersengketa pulau-pulau kecil di dekat Hokaido.

Sementara itu, Komandan Pasukan Amerika Serikat  di Pasifik, Laksamana Samuel Locklear, mengatakan aktivitas militer Rusia telah kembali seperti era Perang Dingin dalam beberapa bulan terakhir. Locklear mengatakan kepada Kongres AS bahwa kapal perang Rusia dikerahkan di kawasan Asia-Pasifik.

Sedangkan pesawat pembom dan pesawat patroli Rusia, lanjut dia, sering masuk ke wilayah udara Jepang di dekat Hokkaido dan empat pulau kecil yang diklaim oleh kedua negara.

Iran Ajak India, China dan Rusia Lawan Sistem Rudal NATO

MOSKOW - Iran mengajak Rusia, China dan India untuk melawan sistem perisai rudal NATO. Iran menyatakan siap bekerjasama dengan tiga negara itu untuk menghadapi ancaman NATO.

”Saya ingin mendukung ide pengembangan kerja sama pertahanan multifaset antara China, Iran, India dan Rusia untuk melawan ekspansi NATO di wilayah timur dan perisai rudalnya yang dipasang di Eropa,” kata Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Hossein Dehqan, di sebuah Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, Kamis kemarin.

Setelah menyampaikan ajakan itu, Dehqan, seperti dikutip RIA Novosti mengatakan, bahwa Rusia, China dan Iran dapat mengadakan pembicaraan pertahanan tripartit.

”Kami membahas aspek-aspek tertentu dari keamanan regional. Sudah diusulkan untuk mengadakan pertemuan trilateral Rusia, Iran dan China,” ujar Dehqan usai bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu. Sementara itu, NATO berdalih penyebaran sistem perisai rudal NATO di Eropa Timur karena meningkatnya ancaman rudal balistik serta ancaman nuklir Iran.

”Ancaman terhadap negara-negara NATO yang ditimbulkan oleh proliferasi rudal balistik terus meningkat. Kerangka kesepakatan (dari program nuklir Iran) tidak mengubah fakta itu,” kata juru bicara NATO, Oana Lungescu, seperti dilansir Sputnik

Selasa, 07 April 2015

Amerika Merasa Terganggu dengan Sepak Terjang China

Kepala Pentagon, Ashton Carter
Sindonews - Amerika Serikat merasa terganggu dan prihatin dengan sepak terjang China dalam beberapa masalah. Menurut pentagon, AS dan China memang bukan sekutu, tapi keduanya tidak harus bermusuhan.

Keprihatinan AS dengan sejumlah perilaku China itu diungkapkan Menteri Pertahanan AS atau Kepala Pentagon, Ashton Carter, saat jadi pembicara di sebuah acara di Arizona State University, Senin waktu AS.



Carter mengatakan, kebijakan Presiden AS, Barack Obama, tetap berkomitmen untuk membantu menjaga perdamaian di wilayah Asia.

Namun, kata Carter, Washington merasa terganggu oleh sepak terjang China dalam beberapa masalah, seperti kebijakan anggaran pertahanan China yang melonjak, cyber space dan sengketa wilayah regional (sengketa maritim).

”Kami dan banyak negara lain sangat prihatin tentang beberapa kegiatan yang dilakukan China,” kata Carter, seperti dikutip AFP, Selasa (7/4/2015). "Anggaran buram pertahanan, kiprahnya di dunia maya, dan perilakunya di berbagai tempat seperti di Laut China Selatan dan Laut China Timur telah memicu sejumlah pertanyaan serius.”

Masih menurut Carter, eskalasi ketegangan antara AS dan China tidak perlu terjadi dan harus dihindari. ”AS dan China bukan sekutu, tapi kita tidak harus bermusuhan. Sebuah konstruktif dari hubungan AS yang kuat, sangat penting untuk keamanan dan kemakmuran global,” imbuh Carter.

Minggu, 05 April 2015

Militer China siap Luncurkan 3 Kapal Selam Terbaru

Okeznoe – Angkatan Laut China dilaporkan telah mempersiapkan tiga kapal selam bertenaga nuklir untuk memperkuat armadanya. Ketiga kapal selam nuklir ini memiliki kemampuan untuk menembakkan misil anti-kapal supersonic.


Ketiga kapal selam tersebut merupakan kapal selam serang Tipe-093G terbaru. Kapal selam itu merupakan versi peningkatan dari Tipe-093 yang telah digunakan angkatan laut China sejak beberapa tahun lalu. Peningkatan yang diberikan pada Tipe-093G antara lain modifikasi pada lambung kapal dan sistem peluncur misil vertikal.

China baru memperkenalkan kapal selam bertenaga nuklir mereka pada 2009, walaupun diduga telah mengembangkan teknologi tersebut sejak 1970-an. Saat ini China dikabarkan memiliki kapal selam serang dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan Amerika Serikat.

"Dilihat dari desain kapal, Tipe-093G seharusnya memiliki kapabilitas anti-kapal dan kemampuan untuk menghadapi kapal selam. Kemungkinan, dalam waktu dekat, kapal selam ini juga akan ditingkatkan dengan kemampuan untuk menyerang target di darat dengan rudal jelajah.," kata Ahli Senior Angkatan Laut China, Yin Zhuo, kepada China Daily, yang dikutip dari The Independent, Senin (6/4/2015).

Seperti yang telah diketahui, militer China sedang mengalami peningkatan kekuatan secara besar-besaran tahun ini. Anggaran belanja militer China meningkat jauh dari anggaran militer 2014. Angkatan laut China juga dilaporkan semakin memperkuat armada mereka di wilayah Samudera Hindia dan Laut China Selatan.

Sabtu, 04 April 2015

Kesepakatan nuklir Iran : Iran Tak Boleh Bangun Reaktor Nuklir Selama 15 Tahun

Okezone – Iran dan enam negara besar (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China) sepakat untuk menandatangani kesepakatan nuklir Iran pada Kamis 2 April di Laussane, Swiss.

“Ini adalah keputusan yang penting sebelum perjanjian damai. Kami akan memulai untuk merumuskannya kesepakatan damai tersebut,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2015).


Para diplomat dari masing-masing negara telah melakukan perundingan selama delapan hari untuk membahas program nuklir Iran. Inti dari kesepakatan mereka adalah Iran diperbolehkan untuk tetap memproduksi uranium demi kepentingan pembangkit listrik di negaranya.

Namun, Iran akan mematuhi batas maksimal produksi uraniumnya. Selain itu, Iran harus mengurangi jumlah reaktor nuklirnya dan tidak diperbolehkan untuk membangun reaktor nuklir baru dalam jangka waktu 15 tahun.

Kesepakatan itu belum merupakan keputusan final. Para diplomat masih akan merumuskan perjanjian damai yang sifatnya permanen.

Kesepakatan damai ini setidaknya dapat membuat Iran terhindar dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan UE.

Jumat, 27 Februari 2015

China Berencana Tempatkan Pasukan di Luar Negeri



VIVA - Rancangan undang-undang baru China yang akan menjadi kerangka hukum pengiriman pasukan ke luar negeri, untuk menjalani misi kontra-terorisme akan segera disahkan.

Dikutip dalam laporan Reuters, Jumat, 27 Februari 2015, beberapa pakar mengatakan RUU Anti-Terorisme akan mengatasi kekhawatiran para petinggi militer, tentang tidak adanya mekanisme formal menjalankan operasi.


Pengaturan pada Pasal 76 itu, merupakan sebagian kecil dari UU yang dimaksudkan untuk memperkuat upaya memerangi terorisme di dalam negeri, seperti diumumkan pada November 2014 lalu.

RUU itu telah menjalani pembahasan kedua oleh sebuah komite di parlemen, dan mungkin akan disetujui pada beberapa pekan atau bulan mendatang. Belum banyak orang China yang menjadi sasaran serangan terorisme di luar negeri.

Walau begitu, China memiliki banyak kepentingan terkait investasi di sektor energi, proyek konstruksi dan pertambangan pada banyak negara di dunia, termasuk Timur Tengah dan Afrika yang tidak stabil karena konflik bersenjata.

Resiko terkait berbagai proyek investasi China itu telah dibahas sejak 2011, ketika ribuan orang pekerja asal China harus dievakuasi dari Libya, selama terjadinya pemberontakan terhadap Moammar Kadhafi.

Pasal 76 akan memberi kewenangan bagi militer, untuk melakukan operasi kontra-terorisme di luar negeri, dengan persetujuan dari negara yang terkait.
"Ini merupakan evoluasi dalam cara berpikir China pada upaya kontra-terorisme," kata Daveed Gartenstein-Ross, peneliti kontra-terorisme yang berbasis di Washington DC

Diplomat China Perlihatkan Dukungan Bagi Rusia Soal Ukraina


VIVA - Barat harus mempertimbangkan kekhawatiran Rusia, atas masalah keamanan mereka terkait persoalan Ukraina. Demikian disampaikan Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing pada Kamis 26 Februari 2015.

Xing yang dikutip Reuters, Jumat 27 Februari 2015, mengkritik kompetisi yang terjadi antara Rusia dan Barat, terkait krisis Ukraina, mendesak Barat meninggalkan mentalitas 'zero-sum' dengan Rusia.

Dia merujuk pada sebuah teori ekonomi, yang merepresentasikan situasi di mana kemenangan satu pihak adalah kekalahan bagi lawannya. "Barat harus meninggalkan mentalitas zero-sum dan mempertimbangkan kekhawatiran nyata Rusia," ujar Xing.

Menurut Xing, intervensi eksternal menambah buruk krisis, serta memperingatkan bahwa Moscow akan merasa diperlakukan tidak adil, jika Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, tidak mengubah pendekatan.

Komentar Xing itu memperlihatkan pemahaman China atas posisi Rusia, setelah sebelumnya Beijing secara umum tidak terlihat ingin mendukung Rusia atas krisis di Ukraina.

China selama ini tampak berhati-hati, untuk tidak terseret dalam konflik antara Rusia dan Barat tentang masa depan Ukraina, dengan mengatakan ingin mengembangkan kerja sama yang bersahabat dengan Ukraina.

Sebaliknya juga menyebut menghormati independensi, kedaulatan, dan integritas teritorial Rusia. Xing menyampaikan komentarnya, seiring dengan pembicaraan yang berlangsung antara AS dan Eropa, untuk menambah sanksi bagi Rusia.

Pada Senin 23 Februari 2015, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh Barat berusaha mendominasi, serta memaksakan ideologi mereka pada pihak lain.

Xing mengeluarkan kritik keras pada AS, dengan mengatakan keterlibatan Washington di Ukraina, akan menjadi gangguan dalam kebijakan luar negerinya.

"AS tidak bersedia melihat kehadirannya di mana pun dilemahkan, tetapi faktanya adalah sumber daya mereka terbatas, dan akan menjadi pekerjaan sulit untuk menjaga pengaruhnya dalam urusan eksternal," ucap Xing.

Persaingan Barat & Rusia Sumber Masalah di Ukraina

 


Okezone, BEIJING – Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing, melihat persaingan antara negara-negara Barat dengan Rusia merupakan sumber masalah krisis Ukraina saat ini. Dia meminta negara Barat untuk meninggalkan mentalitas “zero sum” yang hanya mencari pemenang dan mulai melihat posisi Rusia yang khawatir mengenai keamanan nasional mereka.


Menurutnya, intervensi yang dilakukan oleh negara-negara asing mempercepat terjadinya krisis dan memperingatkan mungkin Moskow merasa tidak diperlakukan secara adil jika Barat tidak mengubah pendekatan mereka.

“Barat harusnya meninggalkan mentalitas ‘zero sum game’ mereka dan mempertimbangkan kekhawatiran Rusia mengenai isu keamanannya,” kata Qu, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (27/2/2015).

Negara Barat sedang membicarakan pengetatan sanksi terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Segei Lavrov menuduh Barat sedang berusaha mendominasi dan memaksakan ideologi mereka pada seluruh dunia.
Pernyataan sang dubes ini menunjukkan pengertian China atas posisi Rusia. Kedua negara telah bertemu dalam banyak isu-isu internasional, namun jarang sekali China mendukung Rusia mengenai konflik di Ukraina.

Perlombaan untuk Menguasai Kutub Utara


Irib - Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan kekuatan militer dalam membela kepentingan nasional Rusia di Kutub Utara.

Dalam sebuah rapat di Departemen Pertahanan Rusia pada Rabu (25/2/2015), Shoigu mengatakan, kehadiran militer konstan di Kutub Utara dan kemungkinan untuk melindungi kepentingan negara dengan cara militer dianggap sebagai bagian integral dari kebijakan umum untuk menjamin keamanan nasional Rusia.


"Ini bukan rahasia bahwa Laut Arktik berubah menjadi salah satu pusat dunia untuk memproduksi hidrokarbon dan merupakan persimpangan penting untuk komunikasi transportasi," katanya.

Shoigu lebih lanjut menandaskan beberapa negara maju yang tidak memiliki akses langsung ke Arktik telah mengambil langkah-langkah politik dan militer tertentu untuk masuk ke wilayah itu. Dia juga mencatat bahwa negara-negara yang berdekatan dengan Kutub Utara juga sedang mencoba untuk memperluas kehadirannya.

Tidak hanya lima negara pesisir Laut Arktik – Rusia, Norwegia, Kanada, Denmark, dan Amerika Serikat – yang ingin memperluas kehadirannya di wilayah tersebut, tetapi negara-negara yang tidak punya akses langsung ke sana juga antusias untuk terlibat di Arktik, khususnya Cina.

Pasal 57 Konvensi Hukum Laut 1982 menyebutkan bahwa luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) bagi setiap negara pantai adalah 200 mil. Sementara negara-negara yang menginginkan zona yang lebih luas, mereka bisa mengajukan Landas Kontinen Eksistensi (LKE) kepada Komisi PBB (CLCS).

Di antara semua negara pesisir Arktik, Rusia sangat ingin untuk menguasai sumber-sumber minyak, gas, dan bahan tambang di wilayah itu. Pada dasarnya, Rusia menganggap sebagian dari Arktik sebagai bagian dari wilayah Siberia, yang menjadi miliknya. Namun, negara-negara tetangga seperti, Kanada juga mengklaim kepemilikan Kutub Utara dan sekitar perairan Arktik.

Pada tahun 2001, Rusia mengajukan aplikasi pendaftaran klaim kepemilikan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tapi ditolak karena tidak memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan. Rusia sejauh ini masih tetap mengklaim kepemilikan sekitar 20 persen dari total luas perairan Arktik.

Badan Survei Geologi AS memperkirakan bahwa harta karun berupa seperempat cadangan minyak dan gas bumi ada di Kutub Utara. Persaingan untuk memperebutkan wilayah itu meningkat setelah mencairnya gunung-gunung es sehingga mempermudah akses.

Keinginan untuk mengekspoitasi sumber-sumber kekayaan alam di perairan Arktik mendapat perhatian luas negara-negara sekitar dalam beberapa tahun terakhir. Isu itu telah meningkatkan ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat anggota NATO yaitu, AS, Kanada, Norwegia, dan Denmark.

Pemerintah Kanada bahkan telah mengajukan laim kepemilikan sekitar perairan Arktik kepada PBB. Negara-negara Barat lainnya juga memperkuat kehadiran militer mereka dan mengadakan latihan di wilayah strategis itu.

Cadangan energi yang tersimpan di Kutub Utara telah memperketat persaingan dan diperkirakan perseteruan untuk menguasai daerah itu akan memanas di tahun-tahun mendatang. Masalah ini akan menjadi sebuah tantangan besar antara Rusia dan NATO.

Sejalan dengan itu, NATO mulai memperluas kehadiran militernya di Kutub Utara termasuk menggelar sejumlah latihan. Rusia juga mengambil langkah-langkah penting seperti, membentuk sebuah komando yang terdiri dari Armada Utara, Brigade Perang Kutub Utara, angkatan udara serta pendukung taktis.

Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menganggap AS sebagai ancaman potensial terhadap negaranya di Arktik. Dia menegaskan Rusia harus membela kepentingan ekonomi dan strategisnya di wilayah itu.

Pernyataan Sergei Shoigu sebenarnya bertujuan untuk menegaskan kembali tentang keseriusan Rusia untuk membela kepentingannya di Laut Arktik bahkan dengan cara militer.

Rabu, 18 Februari 2015

Myanmar umumkan keadaan darurat di negara bagian Shan


ANTARA News, Lashio - Myanmar Selasa memberlakukan keadaan darurat di kawasan perbatasan yang dilanda konflik, tempat pertempuran sengit antara tentara dan pemberontak etnis yang menyebabkan ribuan orang menyelamatkan diri dari serangan-serangan udara dan bentrokan senjata.

Warga sipil menjadi sasaran serangan dalam bentrokan-bentrokan mematikan antara tentara dan pemberontak Kokang di negara bagian Shan, kata para pejabat setempat, lapor AFP.

Dalam sepekan terakhir ribuan orang menyelamatkan diri dengan mengungsi ke Tiongkok, yang telah menyuarakan kecemasan atas peningkatan banjir darah itu.

"Situasi telah berkembang serius dan berisiko terhadap keselamatan jiwa orang-orang, jadi keadaan darurat diberlakukan mulai hari ini," menurut Kementerian Penerangan Myanmar dalam pernyataan yang menyebutkan langkah-langkah di kawasan Kokang, negara bagian Shan, tempat konflik terjadi sejak 9 Februari.

Dalam satu pengumuman terpisah disebutkan panglima tentara Myanmar mengendalikan sepenuhnya "hukum dan stabilitas" di kawasan tersebut.

Sai Shwe Win, seorang petugas di dinas kebakaran Lashio, mengatakan puluhan warga sipil yang berada di dalam truk mendapat serangan ketika mereka berusaha menyelamatkan diri dari pertempuran di kawasan itu Selasa pagi. Satu orang dilaporkan tewas dan satu orang lagi luka-luka.

Satu rumah ibadah di kota Lashio, sekitar 140 kilometer sebelah selatan zona konflik, telah menjadi tempat penampungan sementara bagi ribuan orang yang telah menyelamatkan diri, sebagian besar membawa tak lebih daripada tas-tas plastik berisi barang-barang apa adanya.

Di pihak Tiongkok, Beijing menyatakan telah meningkatkan pengawasan di perbatasan setelah sekitar 30.000 orang melarikan diri masuk ke Provinsi Yunnan.


Warga Sipil Diserang
Arus warga sipil terus berlanjut hingga Selasa malam dan mereka membawa laporan bahwa benrokan-bentrokan sengit terjadi di wilayah perbukitan di sepanjang perbatasan.

Seorang wanita yang berusia 40 tahun tampak kelelahan setelah menyelamatkan diri bersama dengan puteranya yang berusia tiga tahun pada Selasa. Dia mengatakan dirinya mendengar tembakan senjata sementara keluarga itu menyelamatkan diri.

"Tiap malam kami merasa takut. Saya gemetar karena takut," kata dia kepada kantor berita AFP, meminta untuk tak disebutkan jatidirinya.

Bentrokan-bentrokan antara warga Kokang yang beretnis Tionghoa dan tentara berlokasi di Laukkai, permukiman Kokang, satu kota di dekat perbatasan yang ditinggal warganya.