Tampilkan postingan dengan label Ukraina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukraina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Dewan Keamanan PBB gelar sidang darurat soal Ukraina


Antara news, PBB, Amerika Serikat - Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat pada Jumat mengenai kesepakatan gencatan senjata di wilayah timur Ukraina, yang menunjukkan tanda kemungkinan diberlakukan, kata diplomat.


Prancis dan Jerman meminta pertemuan dewan beranggotakan 15 negara itu seiring dengan penarikan senjata berat dari garis depan oleh militer Ukraina dan pertarungan dengan pemberontak tampak mereda.

Pertemuan itu akan menjadi sidang pertama Dewan Keamanan PBB sejak bertemu pada 17 Februari untuk mendukung kesepakatan gencatan senjata oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Ukraina, Prancis serta Jerman, yang dicapai di Minsk.

Anggota DK-PBB akan mendengar laporan dari dua wakil Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) mengenai keadaan di lapangan, sebelum mengadakan pembicaraan tertutup.

Dewan tertinggi PBB itu telah mengadakan sebanyak 30 pertemuan untuk membahas konflik di Ukraina yang telah mengakibatkan hampir 5.800 orang tewas sejak perang dimulai pada April 2014, demikian seperti dilaporkan AFP.

Diplomat China Perlihatkan Dukungan Bagi Rusia Soal Ukraina


VIVA - Barat harus mempertimbangkan kekhawatiran Rusia, atas masalah keamanan mereka terkait persoalan Ukraina. Demikian disampaikan Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing pada Kamis 26 Februari 2015.

Xing yang dikutip Reuters, Jumat 27 Februari 2015, mengkritik kompetisi yang terjadi antara Rusia dan Barat, terkait krisis Ukraina, mendesak Barat meninggalkan mentalitas 'zero-sum' dengan Rusia.

Dia merujuk pada sebuah teori ekonomi, yang merepresentasikan situasi di mana kemenangan satu pihak adalah kekalahan bagi lawannya. "Barat harus meninggalkan mentalitas zero-sum dan mempertimbangkan kekhawatiran nyata Rusia," ujar Xing.

Menurut Xing, intervensi eksternal menambah buruk krisis, serta memperingatkan bahwa Moscow akan merasa diperlakukan tidak adil, jika Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, tidak mengubah pendekatan.

Komentar Xing itu memperlihatkan pemahaman China atas posisi Rusia, setelah sebelumnya Beijing secara umum tidak terlihat ingin mendukung Rusia atas krisis di Ukraina.

China selama ini tampak berhati-hati, untuk tidak terseret dalam konflik antara Rusia dan Barat tentang masa depan Ukraina, dengan mengatakan ingin mengembangkan kerja sama yang bersahabat dengan Ukraina.

Sebaliknya juga menyebut menghormati independensi, kedaulatan, dan integritas teritorial Rusia. Xing menyampaikan komentarnya, seiring dengan pembicaraan yang berlangsung antara AS dan Eropa, untuk menambah sanksi bagi Rusia.

Pada Senin 23 Februari 2015, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh Barat berusaha mendominasi, serta memaksakan ideologi mereka pada pihak lain.

Xing mengeluarkan kritik keras pada AS, dengan mengatakan keterlibatan Washington di Ukraina, akan menjadi gangguan dalam kebijakan luar negerinya.

"AS tidak bersedia melihat kehadirannya di mana pun dilemahkan, tetapi faktanya adalah sumber daya mereka terbatas, dan akan menjadi pekerjaan sulit untuk menjaga pengaruhnya dalam urusan eksternal," ucap Xing.

Militer Ukraina Mulai Tarik Artileri dari Garis Depan



Okezonne, PARASKOVIYVKA - Militer Ukraina mulai menarik senjata artileri mereka dari garis depan konflik melawan separatis pro-Rusia. Terlihat tujuh atau delapan senjata berat telah ditarik menggunakan kendaraan di Desa Paraskoviyvka sebelah utara kubu pertahanan militer Ukraina Artemivsk.

“Hari ini Ukraina telah mulai menarik artileri 100 milimeter dari garis depan konflik,” demikian pernyataan dari militer Ukraina seperti yang dikutip Al Jazeera Jumat (27/2/2015). Proses penarikan ini akan dipantau oleh Organisasi Kerjasama Keamanan Eropa (OSCE).


Tim yang terdiri dari 600 personel OSCE mengawasi pelaksanaan perjanjian gencatan senjata di Minsk, Belarusia, antara Rusia dan Ukraina yang diperantarai oleh Perancis dan Jerman.

Pasukan pemberontak telah terlebih dahulu menarik persenjataan berat mereka, namun militer Ukraina masih menahan keputusan penarikan tersebut dengan alasan pertempuran masih belum mereda.

Sejak pihak pemberontak berhasil merebut Debaltseve, mereka terus menekankan keinginan mereka untuk mematuhi perjanjian damai tersebut. Intensitas pertempuran memang terlihat menurun beberapa hari ini, meski begitu kedua belah pihak masih saling melempar tuduhan pelanggaran perjanjian.

Konflik di Ukraina Timur telah menelan korban jiwa lebih dari 5.000 orang sampai saat ini. Konflik ini berlangsung sejak April 2014, dan saat ini sedang dalam masa gencatan senjata.

Persaingan Barat & Rusia Sumber Masalah di Ukraina

 


Okezone, BEIJING – Duta Besar China untuk Belgia, Qu Xing, melihat persaingan antara negara-negara Barat dengan Rusia merupakan sumber masalah krisis Ukraina saat ini. Dia meminta negara Barat untuk meninggalkan mentalitas “zero sum” yang hanya mencari pemenang dan mulai melihat posisi Rusia yang khawatir mengenai keamanan nasional mereka.


Menurutnya, intervensi yang dilakukan oleh negara-negara asing mempercepat terjadinya krisis dan memperingatkan mungkin Moskow merasa tidak diperlakukan secara adil jika Barat tidak mengubah pendekatan mereka.

“Barat harusnya meninggalkan mentalitas ‘zero sum game’ mereka dan mempertimbangkan kekhawatiran Rusia mengenai isu keamanannya,” kata Qu, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (27/2/2015).

Negara Barat sedang membicarakan pengetatan sanksi terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Segei Lavrov menuduh Barat sedang berusaha mendominasi dan memaksakan ideologi mereka pada seluruh dunia.
Pernyataan sang dubes ini menunjukkan pengertian China atas posisi Rusia. Kedua negara telah bertemu dalam banyak isu-isu internasional, namun jarang sekali China mendukung Rusia mengenai konflik di Ukraina.

Senin, 23 Februari 2015

Ukraina: Serangan Pemberontak Ganggu Penarikan Senjata



Voa Indonesia - Militer Ukraina menyatakan tidak dapat memulai penarikan senjata berat dari garis depan di bagian timur negara itu sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata, karena pemberontak pro-Rusia masih melancarkan serangan-serangan.


Para pejabat hari Senin (23/2) menyatakan pembicaraan mengenai penarikan senjata tidak dapat dilakukan selama serangan berlanjut.

Hari Minggu, kedua pihak setuju untuk menarik senjata berat mereka dari garis depan. Ini merupakan sinyal positif mengenai penerapan rencana perdamaian yang telah dilanggar berkali-kali.

Para pejabat militer menyatakan pemberontak setuju untuk menuntaskan penarikan tersebut dalam kurun dua pekan mendatang, sementara laporan media menyatakan penarikan itu mungkin dimulai hari Minggu 22 Februari.

Penarikan senjata itu ditetapkan berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku lebih dari sepekan silam.

Minggu, 22 Februari 2015

Ukraina dan pemberontak bertukar puluhan tahanan



Anatara news, Donetsk - Pemerintah Ukraina dan pemberontak bertukar puluhan tahanan di Ukraina timur, kata pejabat Dewan Keamanan Ukraina, Minggu.

Keputusan itu menjadi langkah menuju pelaksanaan kesepakatan perdamaian, yang diperantarai antarbangsa, demikian seperti dilaporkan Reuters.


Saksi di Desa Zholobok, 20 kilometer barat kubu pemberontak, Luhansk, melihat lebih dari 130 prajurit Ukraina dibebaskan pada Sabtu malam dalam suatu kesepakatan pertukaran untuk 52 pejuang pemberontak.

Pertukaran itu adalah salah satu langkah pertama untuk menerapkan kesepakatan perdamaian yang dicapai pada 12 Februari di ibukota Belarus, Minsk, setelah pemimpin Prancis, Jerman, Rusia dan Ukraina bertemu.

Markian Lubkivskyi dari Dewan Keamanan Ukraina menerbitkan daftar 139 prajurit Ukraina yang dibebaskan dan mengatakan, pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk membebaskan orang-orang yang tersisa di tahanan pemberontak, dalam sebuah pernyataan di Facebook-nya, Minggu pagi.

Pertempuran telah mereda di banyak daerah sejak gencatan senjata mulai berlaku seminggu yang lalu, tapi gencatan senjata sangat terguncang dengan dikuasainya kota strategis Debaltseve oleh pemberontak pada Rabu, yang memaksa mundur ribuan tentara Ukraina.

Kiev menuduh separatis membangun kekuatan dan senjata di Ukraina tenggara dan militer Ukraina mengatakan pada Sabtu jika mereka bersiap untuk mengatasi kemungkinan serangan pemberontak di kota pelabuhan Mariupol.

Namun demikian, pemimpin pemberontak mengatakan pada Sabtu jika mereka telah menandatangani sebuah dokumen yang merinci rencana penarikan senjata berat, seperti yang dipersyaratkan oleh perjanjian Minsk.

Hal itu merupakan tanda bahwa mereka mungkin tengah mempersiapkan untuk menghentikan pergerakan mereka, setelah mencapai tujuan utama militer mereka dengan merebut Debaltseve.

Jumat, 20 Februari 2015

90 tentara Ukraina ditawan, 82 lainnya hilang



Antaranews, Kiev  - Lebih dari 90 tentara Ukraina ditawan dan 82 lainnya masih hilang setelah para pemberontak pro-Rusia menduduki kota kunci, Devaltseve, kata militer Ukraina, Kamis.

Angkatan bersenjata Ukraina itu mengatakan pihaknya telah mengerahkan "pasukan tertentu" untuk mencari mereka yang hilang dan meminta para pemantau dari Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) untuk membantu menemukan keberadaan mereka.


Pasukan Ukraina pada Rabu mundur dari Debaltseve --kota pusat perkeretaapian-- setelah berlangsungnya serangan gencar oleh para pejuang separatis. Kiev menyatakan para pemberontak itu dipersenjatai oleh Moskow dan dimasukkan dalam ketentaraan reguler Rusia.

Dalam sebuah pernyataan, staf jenderal Ukraina mengatakan 13 tentara tewas dan 157 lainnya luka-luka selama penarikan pasukan tersebut.

Pihak militer Kiev menyatakan bahwa pasukannya telah menawan "puluhan" petempur pemberontak di Debaltseve dan menahan mereka untuk diperiksa, demikian AFP.

Kamis, 19 Februari 2015

Ukraina minta PBB kerahkan pasukan perdamaian

Tentara Ukraina ditarik mundur dari Kota Debaltseve

Presiden Ukraina Petro Poroshenko meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengerahkan pasukan penjaga perdamaian ke bagian timur Ukraina demi memastikan gencatan senjata dipatuhi.

Permintaan itu dilontarkan Poroshenko dalam sebuah pertemuan keamanan darurat setelah pasukan Ukraina ditarik mundur dari Kota Debaltseve. Menurutnya, pasukan penjaga perdamaian akan membantu menjamin keamanan ketika janji perdamaian tidak dipatuhi.


Sekretaris Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional Ukraina, Olexander Turchynov, mengamini alasan sang presiden. “Soal pembentukan operasi keamanan dan penjaga perdamaian telah dibawa ke PBB dan Uni Eropa,” kata Turchynov.

Penarikan mundur 2.500 serdadu Ukraina dari Kota Debaltseve pada Rabu (18/02) dilakukan seiring dengan gencatan senjata pada Minggu (15/02).

Sebagian besar 25.000 penduduk Debaltseve telah dievakuasi, namun sedikitnya 5.000 warga sipil diyakini masih berada di kota tersebut.

Juru bicara kubu pemberontak, Eduard Basurin, mengatakan kota itu telah dikuasai sepenuhnya oleh separatis. Basurin juga mengklaim pihaknya telah menyandera lebih dari 300 serdadu Ukraina.
Pemerintah Ukraina mengakui sejumlah serdadunya disandera, namun tidak menjelaskan secara rinci.

Pasukan Ukraina mundur secara terorganisasi



bbc - Presiden Ukraina mengatakan bahwa pasukannya melakukan penarikan mundur secara terorganisasi dari kota yang dikecamuk perang, Debaltseve.

Petro Poroshenko mengatakan 80% pasukan Ukraina meninggalkan kota itu hari Rabu (18/02) pagi waktu setempat setelah pertempuran sengit beberapa hari.


Rusia mengatakan pasukan Ukraina mencoba mencari jalan keluar dari kota itu setelah terkepung, namun Poroshenko menyatakan bahwa mereka tidak pernah terkepung.

Masuknya pasukan pemberontak ke Debaltseve, meskipun adanya gencatan senjata baru-baru ini, telah dikecam banyak pihak.

Ketua Nato, Jens Stoltenberg, mengatakan serangan pemberontak itu menyebabkan kesepakatan damai menghadapi risiko dan mendesak Rusia "untuk menggunakan semua pengaruhnya pada pihak separatis untuk membuat mereka menghormati gencatan senjata".

Ia juga menyerukan Moskow agar menarik mundur pasukannya dari Ukraina, dengan mengatakan pasukan, artileri, dan unit-unit pertahanan udara Rusia masih tetap aktif di negara itu.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menekankan bahwa aksi-aksi pemberontak di Debaltseve tidak melanggar gencatan senjata karena kota itu sudah dikuasai pemberontak ketika kesepakatan damai ditandatangani minggu lalu.

Pertempuran Baru Pecah di Ukraina Timur

Separatis pro-Rusia berjalan di Debaltseve, Ukraina timur yang kini mereka kuasai
Voaindonesia - Pertempuran baru pecah hari Kamis di Ukraina bagian timur bahkan selagi separatis pro-Rusia merayakan di jalan-jalan kota pusat jalur kereta, Debaltseve, yang mereka rebut dari pasukan Kyiv sehari sebelumnya.

Para pemimpin Ukraina, Jerman, Prancis dan Rusia memperbaharui dukungan mereka terhadap gencatan senjata yang sekarang berantakan, yang dirundingkan seminggu lalu, tapi letusan-letusan senjata terdengar di wilayah yang berperang.


Presiden Ukraina Petro Poroshenko meminta penempatan penjaga perdamaian internasional di Ukraina timur. Namun pemberontak dan Rusia menolak usulan tersebut dan mengatakan itu melanggar persyaratan gencatan senjata yang disepakati di Minsk, ibukota Belarus.

Para pemberontak di Debaltseve bergembira dan berpelukan ketika berpose untuk difoto setelah mereka merebut jalur rel kereta yang menghubungkan kubu pemberontak utama di Donetsk dan Luhansk.

Militer Ukraina mengatakan korban berjatuhan semakin banyak selagi pasukannya meninggalkan kota itu atas perintah Poroshenko. Kyiv mengatakan 13 prajurit tewas dan 157 terluka, dengan 82 lainnya hilang dan 93 ditawan.

Poroshenko mengatakan direbutnya kota Debaltseve oleh pemberontak merupakan pelanggaran gencatan senjata. Selama bentrokan seminggu, pemberontak mengepung kota tersebut sebelum pemimpin Ukraina memerintahkan penarikan pasukan.

Rabu, 18 Februari 2015

Rusia akan bantu bangun kembali bagian timur Ukraina




ANTARA News, Tyumen - Ketua parlemen kawasan Rusia mengatakan bahwa Rusia akan membantu membangun kembali bagian timur Ukraina, yang sedang dilanda perang, Rabu.

"Kami sudah membantu penduduk Donbas dengan bantuan kemanusiaan. Saya percaya bahwa Rusia tidak akan berdiam diri dan tentu akan membantu membangun kembali Donbas, tapi itu tugas besar untuk Rusia dan Ukraina," kata ketua Duma (parlemen) Sergei Naryshkin kepada wartawan.

Naryshkin menambahkan bahwa ia berharap mitra Eropa juga bergabung dalam membangun kembali wilayah timur Ukraina, demikian seperti dikutip Sputnik.

Selasa, 17 Februari 2015

Ukraina Tuding Rusia Langgar Perjanjian Damai



Irib - Pemerintah Ukraina menuding Rusia dan pemberontak di timur negara itu sebagai perusak proses perdamaian.

Juru bicara presiden Ukraina, Valery Chaly pada Selasa (17/2/2015) mengatakan, Rusia dan pemberontak tidak mematuhi perjanjian Minsk dan sedang melanggar komitmen mereka.


Dia menambahkan, eskalasi ketegangan itu tidak hanya mengancam wilayah teritorial dan kedaulatan Ukraina, tapi juga keamanan Uni Eropa.

Chaly menuturkan bahwa pemberontak telah memasuki kota strategis, Debaltseve di tengah gencatan senjata.

Staf Militer Ukraina juga mengklaim bahwa sebagian wilayah Debaltseve berada di bawah kontrol pemberontak.

Sementara itu, kelompok pemberontak mengatakan bahwa mereka bergegas masuk dari utara dan timur Debaltseve dan telah mengambil alih stasiun kereta api. Sekitar 80 persen dari kota itu kini berada di tangan mereka.

Dalam panggilan telepon pada Senin, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengimbau Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menggunakan pengaruhnya terhadap pemberontak untuk memastikan bahwa mereka menghentikan pertempuran.

Kantor Merkel melaporkan bahwa tiga pemimpin menyepakati langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan pemantauan situasi di Debaltseve oleh Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE)

Minggu, 15 Februari 2015

Amerika menggunakan Ukraina untuk mengacaukan Rusia



Irib - Seorang analis politik mengatakan, Amerika Serikat menggunakan krisis yang sedang berlangsung di Ukraina sebagai batu loncatan untuk mengacaukan seluruh wilayah.


"AS tidak akan pernah meninggalkan Ukraina sampai dapat memanfaatkannya sebagai batu loncatan untuk mengacaukan seluruh wilayah," kata Joaquin Flores, Direktur Pusat Studi Syncretic kepada Press TV, Ahad (15/2/2015).

Flores menganggap campur tangan AS di Ukraina sebagai pemicu kekacauan saat ini di negara itu. Menurutnya, pemerintahan baru di Kiev dikendalikan oleh Washington. Dia bahkan menyebut pemerintah Ukraina sebagai pemerintah pendudukan.

Flores menyimpulkan bahwa AS bukanlah mitra terpercaya dalam perdamaian.

Pertempuran antara pasukan Ukraina dan pemberontak pro-Rusia di wilayah timur negara itu terjadi sejak pertengahan April 2014.

 Menurut PBB, lebih dari 5.500 orang tewas dan 12.200 lainnya terluka dalam konflik. Sekitar 1,5 juta orang terpaksa harus mengungsi selama beberapa bulan terakhir

Sabtu, 14 Februari 2015

Tembak-Menembak Terus Berlangsung di Ukraina Setelah Perjanjian Perdamaian




LiputanIslam, Donetsk - Tembak-menembak masih terus berlangsung meski di wilayah Ukraina timur meski telah disepakatinya perjanjian perdamaian di Minsk, Kamis (12/2).


BBC News melaporkan, Jumat (13/2) bahwa pertempuran baru terjadi di beberapa kota di wilayah Donetsk dan  Luhansk, sehari setelah perjanjian damai tersebut. Namun belum ada konfirmasi mengenai jumlah korban yang terjadi akibat pertempuran itu.

BBC melaporkan tembak-menembak masih terjadi di Donetsk pada hari Jumat (13/2), meski dengan intensitas yang menurun dari sebelumnya. Luhansk juga mengalami pertemuran sengit sepanjang Kamis malam dengan Russia Today melaporkannya sebagai pertempuran paling sengit dalam beberapa bulan terakhir.

Pada hari Jumat pagi, jubir militer Ukrain mengatakan bahwa 8 anggota militer Ukraina tewas dalam pertemuran 24 jam terakhir. Sedangkan kelompok separatis mengklaim kepada AFP bahwa 3 warga sipil tewas di Luhansk.

Perjanjian perdamaian sebelumnya ditandatangani pada bulan September 2014 lalu, namun tidak banyak berpengaruh di medan pertempuran. Para pengamat pun menyatakan pesimis dengan perjanjian perdamaian terakhir yang ditandatangani Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Presiden Perancis Francois Hollande dan Kanselir Jerman Angela Merkel ini.

Dalam perjanjian itu disepakati penarikan senjata-senjata berat dari wilayah konflik serta tukar-menukar tawanan. Namun isu-isu penting lain masih harus dibicarakan lagi.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan para komandan Rusia dan Ukraina akan bertemu untuk membahas tenkis penarikan senjata-senjata berat dan pembentukan zona penyangga.

Salah satu isu penting yang harus dibicarakan lagi adalah status kota Debaltseve di Timur Laut Donetsk, yang dikepung oleh pemberontak, namun pasukan Ukraina menolak untuk menyerah.

Jumat, 13 Februari 2015

Perundingan Minsk Sepakati Gencatan Senjata Baru antara Rusia dengan Ukraina



Jaringnews, MINSK - Pembicaraan Marathon di Belarus yang berakhir pada Kamis ini ditutup dengan pengumuman gencatan senjata antara Ukraina dan pemberontak pro-Moskow.


Namun demikian, Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan bahwa "rintangan besar" tetap masih ada.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang muncul dari pertemuan puncak di ibukota Belarusia Minsk mengatakan Merkel, Presiden Perancis Francois Hollande, Presiden Ukraina Petro Poroshenko dirinya telah menyepakati poin "utama".

Putin mengatakan gencatan senjata akan berlaku pada Minggu mendatang dan senjata berat akan ditarik dari garis depan dari konflik yang telah menewaskan sedikitnya 5.300 orang dan mendorong jutaan orang dari rumah mereka.

Hollande melangkah lebih jauh, mengatakan ada kesepakatan mengenai "solusi politik yang komprehensif." Pemimpin Perancis mengatakan ada "harapan yang serius, bahkan jika semua tidak dilakukan".

Namun, Merkel berbicara hanya dari "secercah harapan".

"Saya tidak punya ilusi. Kami tidak memiliki ilusi," katanya sambil menambahkan bahwa "banyak pekerjaan" tetap di tempat.

Gencatan senjata, dimaksudkan untuk meringankan krisis yang telah menjerumuskan Barat dan Rusia dalam sengketa pahit sejak Perang Dingin, ditandatangani oleh apa yang disebut "grup kontak".

Group ini terdiri dari para pemimpin pro-Rusia separatis, utusan Rusia dan Ukraina dan mediator Eropa dari OSCE.

Gencatan senjata sebelumnya yang ditandatangani di Minsk September lalu telah dengan cepat runtuh.

Pembicaraan terakhir dipandang sebagai kesempatan terakhir bagi para pemimpin Eropa untuk menyelamatkan Ukraina dari kekalahan yang terus melebar di tangan pemberontak yang dikatakan oleh Kiev dan Barat dipersenjatai dan dilatih oleh Rusia.

Bahkan saat kesepakatan itu disepakati, Kiev dan sumber pemberontak mengatakan pertempuran selama 24 jam terakhir telah menewaskan 14 warga sipil dan dua tentara Ukraina.

Pemerintah Ukraina juga menuduh Rusia mengerahkan 50 tank lain semalam di wilayah perbatasan.

Ukraina Serang Separatis di Mariupol




Okezone, KIEV – Pemerintah Ukraina melakukan serangan ke kelompok separatis pro-Rusia di dekat Kota Mariupol.

“Militer Ukraina sedang melakukan serangan untuk menghancurkan musuh kami di dekat Mariupol,” ujar Sekretaris Garda Nasional Ukraina, Oleksander Turchynov, seperti dilansir Reuters, Selasa (10/2/2015).
Pada bulan lalu kota ini juga diserang roket oleh kelompok separatis hingga menewaskan sedikitnya 30 penduduk.

Ketegangan di Ukraina Timur masih tinggi, pertempuran antara militer Ukraina dengan kelompok separatis masih sering terjadi di wilayah ini. Pihak separatis menginginkan wilayah Ukraina Timur dapat memisahkan diri dari pemerintah pusat. Sedangkan Ukraina menolak untuk memenuhi tuntutan kelompok separatis itu. Mereka justru menuduh Rusia berada di belakang kelompok separatis.

Presiden Putin Setuju Gencatan Senjata di Ukraina



Okezone, MINSK – Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya tercipta kesepakatan damai untuk menyelesaikan krisis di Ukraina.


Presiden Rusia setuju gencatan senjata di Ukraina yang berlaku efektif hari Minggu 15 Februari, selain itu semua perlengkapan perang harus ditarik dari wilayah konflik.
Hal ini disebabkan terciptanya kesepakatan antara Presiden Putin dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Francois Holande, dan Presiden Ukraina Petro Poroshenko di Minsk Belarusia.
“Ada penyelesaian konflik yang menyeluruh terhadap krisis Ukraina,”ujar Presiden Prancis, Francois Holande, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (12/2/2015).

Selain itu, Ukraiana akan mendapatkan dana pinjaman dari IMF untuk merekonstruksi negaranya yang hancur akibat perang. “Kami akan memberikan pinjaman sebesar USD40 miliar kepada Ukraina, dan dapat dicicil selama empat tahun,” ujar Kepala IMF, Christian Lagarde. Konflik di Ukraina telah menewaskan 5.300 jiwa dan ribuan orang mengungsi ke tempat yang lebih aman.