Berita Militer Internasional-Tentara Suriah dengan dibantu kelompok militan Hizbullah berhasil merebut Kota Qalamoun dari tangan pejuang pemberontak.
Pemberontak Suriah berhasil diusir keluar dari Kota Qalamoun setelah terjadi pertempuran sengit di wilayah tersebut. Kota Qalamoun sendiri terletak dekat dengan perbatasan Lebanon.
“Kini, kami berada dalam jalur yang benar untuk mengalahkan pemberontak sekarang,” ujar salah seorang pejabat Militer Suriah yang enggan disebutkan identitasnya, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (14/5/2015).
Tentara Suriah dan Hizbullah bertekad akan membersihkan wilayah perbatasan Lebanon dari kelompok pemberontak yang selama ini menguasai wilayah tersebut.
Wilayah perbatasan Suriah-Lebanon merupakan salah satu wilayah yang strategis. Hal ini dikarenakan semenjak krisis melanda Suriah banyak warganya yang mengungsi ke wilayah Lebanon untuk menghindari konflik berkepanjangan.
Hizbullah sendiri merupakan sebuah kelompok beraliran Syiah dan memiliki kedekatan yang erat dengan Presiden Suriah Bashar al Assad. Konflik di Suriah hingga kini belum menunjukan tanda-tanda untuk berakhir.
Tampilkan postingan dengan label Hizbulah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hizbulah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Mei 2015
Selasa, 05 Mei 2015
Nasrallah: Buktikan Satu Saja Tujuan Saudi Tercapai di Yaman
Berita Militer Internasional-Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah menepis klaim Arab Saudi bahwa semua tujuannya dalam serangan ke Yaman sudah tercapai dan menilainya sebagai “penipuan dan penyesatan terbesar yang telah dilakukan Saudi sejak mengumumkan berakhirnya serangan bersandi Badai Mematikan”. Dia memastikan bahwa agresi Arab Saudi ke Yaman justru gagal total dan rakyat Yamanpun menang.
“Kita berada di depan kegagalan dan kekalahan Saudi yang gamblang dan kemenangan Yaman yang gamblang,” ungkapnya dalam pidato televisi di Lebanon, Selasa malam (5/5), sebagaimana dilansir Alalam.
Dia mengatakan, “Putaran kedua serangan terhadap Yaman dilakukan dengan label Operasi Pemulihan Harapan. Ini juga merupakan penipuan untuk menutupi kegagalannya di putaran pertama. Mereka sudah menetapkan tujuan-tujuan besar yang memerlukan perang berkepanjangan dan mereka masih terus mencari-cari pasukan bayaran. Mereka lantas beralih kepada penetapan tujuan yang tampaknya remeh dan implementatif serta mengubah operasi dari operasi Badai Mematikan menjadi Badai Pemulihan Harapan.”
Nasrallah menyoal, “Apakah mungkin seseorang akan menerima penipuan dan penyesatan ini? Memangnya Saudi sudah berhasil mengembalikan legitimasi yang diklaimnya kepada Yaman? Apakah mereka sudah berhasil mencegah gerak maju tentara Yaman dan komite-komite rakyat ke tempat manapun yang dikehendaki? Apakah mereka dapat merampas senjata Ansarullah sebagaimana yang diklaim? Sama sekali tidak ada yang terwujud. Buktikan satu saja tujuan yang sudah dicapai sampai sekarang. Kita berada di depan kegagalan Saudi yang sangat jelas dan nyata, dan kemenangan Yaman yang juga jelas dan nyata. Kegagalan ini disebabkan oleh kekompakan dan solidaritas rakyat Yaman satu sama lain.”
Menurut Nasrallah, tujuan Saudi menyerang Yaman, termasuk dengan menggunakan senjata-senjata terlarang, adalah untuk menguasai di Yaman dan mengembalikannya ke dalam dominasi Amerika Serikat - Arab Saudi. Namun Nasrallah memastikan bahwa tekad rakyat Yaman terlampau solid dan pantang mundur.
Lebih jauh Nasrallah berbicara tentang perkembangan situasi di Suriah dan menegaskan bahwa Hizbullah tetap akan berjuang bersama pemerintah dan rakyat Suriah.
“Kami akan tetap memikul tanggungjawab kami di Suriah, seberapapun besarnya pengorbanan yang harus diberikan,” tegasnya.
Dia juga menjelaskan bahwa belakangan ini kubu resistensi, yaitu Suriah, Hizbullah dan Iran sedang mendapat serangan propaganda bohong yang tujuannya semata-mata untuk menjatuhkan mental kubu ini, termasuk berkenaan dengan jatuhnya kawasan Jisr al-Shughur, Suriah, ke tangan kawanan bersenjata dan soal perundingan nuklir Iran.
“Kita berada di depan kegagalan dan kekalahan Saudi yang gamblang dan kemenangan Yaman yang gamblang,” ungkapnya dalam pidato televisi di Lebanon, Selasa malam (5/5), sebagaimana dilansir Alalam.
Dia mengatakan, “Putaran kedua serangan terhadap Yaman dilakukan dengan label Operasi Pemulihan Harapan. Ini juga merupakan penipuan untuk menutupi kegagalannya di putaran pertama. Mereka sudah menetapkan tujuan-tujuan besar yang memerlukan perang berkepanjangan dan mereka masih terus mencari-cari pasukan bayaran. Mereka lantas beralih kepada penetapan tujuan yang tampaknya remeh dan implementatif serta mengubah operasi dari operasi Badai Mematikan menjadi Badai Pemulihan Harapan.”
Nasrallah menyoal, “Apakah mungkin seseorang akan menerima penipuan dan penyesatan ini? Memangnya Saudi sudah berhasil mengembalikan legitimasi yang diklaimnya kepada Yaman? Apakah mereka sudah berhasil mencegah gerak maju tentara Yaman dan komite-komite rakyat ke tempat manapun yang dikehendaki? Apakah mereka dapat merampas senjata Ansarullah sebagaimana yang diklaim? Sama sekali tidak ada yang terwujud. Buktikan satu saja tujuan yang sudah dicapai sampai sekarang. Kita berada di depan kegagalan Saudi yang sangat jelas dan nyata, dan kemenangan Yaman yang juga jelas dan nyata. Kegagalan ini disebabkan oleh kekompakan dan solidaritas rakyat Yaman satu sama lain.”
Menurut Nasrallah, tujuan Saudi menyerang Yaman, termasuk dengan menggunakan senjata-senjata terlarang, adalah untuk menguasai di Yaman dan mengembalikannya ke dalam dominasi Amerika Serikat - Arab Saudi. Namun Nasrallah memastikan bahwa tekad rakyat Yaman terlampau solid dan pantang mundur.
Lebih jauh Nasrallah berbicara tentang perkembangan situasi di Suriah dan menegaskan bahwa Hizbullah tetap akan berjuang bersama pemerintah dan rakyat Suriah.
“Kami akan tetap memikul tanggungjawab kami di Suriah, seberapapun besarnya pengorbanan yang harus diberikan,” tegasnya.
Dia juga menjelaskan bahwa belakangan ini kubu resistensi, yaitu Suriah, Hizbullah dan Iran sedang mendapat serangan propaganda bohong yang tujuannya semata-mata untuk menjatuhkan mental kubu ini, termasuk berkenaan dengan jatuhnya kawasan Jisr al-Shughur, Suriah, ke tangan kawanan bersenjata dan soal perundingan nuklir Iran.
Jajaki Keadaan, al-Nusra Kehilangan Belasan Anggotanya di Tangan Hizbullah
Berita Militer Internasional-Di tengah kepastian akan tibanya serangan Hizbullah yang berbasis di Lebanon terhadap kelompok-kelompok teroris di Qalamoun, Suriah, bersamaan dengan berakhirnya musim dingin dan tibanya musim semi, kelompok ekstrimis Jabhah al-Nusra mencoba melancarkan serangan pre-emptive terhadap Hizbullah dan tentara Suriah, namun kelompok teroris yang terafiliasi dengan al-Qaeda di Suriah itu ternyata harus menelan pil pahit.
Koran al-Akhbar terbitan Beirut, Lebanon, Selasa (5/5) melaporkan bahwa pertempuran antara Hizbullah dan al-Nusra yang terjadi di dataran tinggi Jabah dan Assal al-Ward di Qalamoun adalah sesuatu yang menandai perang yang memang sewaktu-waktu pasti pecah antara kedua pihak, dan karena itu masing-masing pihak sudah menyiapkan diri untuk menyongsong kobaran api pertempuran.
Dalam rangka ini al-Nusra mencoba mengatasi ancaman Hizbullah dan tentara Suriah dengan cara mengatur posisi dan jalur aksesnya ke arah barat dan wilayah Lebanon sekaligus ke arah utara dan timur Suriah.
Serangan terbatas yang dilakukan al-Nusra, Brigade al-Ghuraba’ dan Tajammu’ al-Qalamoun al-Gharbi terhadap posisi-posisi Hizbullah dan tentara Suriah di dataran tinggi Jabah dan Assal al-Ward adalah untuk menjajaki skala pertempuran besar yang akan terjadi nanti dan sekaligus demi menjajal peluang untuk menyusup ke kawasan timur wilayah Suriah, namun semua upaya ini ternyata gagal total.
“Serangan ini dilakukan ketika Hizbullah disebut-sebut akan segera memulai perang besar dari dataran tinggi Brital… Serangan para teroris takfiri gagal total. Sedikitnya 13 kawanan penyerang terbunuh, sementara puluhan lainnya luka-luka, sedang di pihak Hizbullah hanya satu orang yang terbunuh, ” tulis al-Akhbar.
Koran ini menambahkan bahwa banyak peralatan perang kawanan teroris itu hancur terkena gempuran Hizbullah, dan parahnya lagi, sesudah kekalahan telak itu para komandan kelompok-kelompok teroris terlibat aksi saling tuduh tidak becus, saling lempar tanggungjawab dan bahkan ada yang dituding berkhianat.
Al-Akhbar juga menyebutkan bahwa dalam peristiwa itu pasukan Hizbullah justru dapat masuk sejauh 8 km ke wilayah pegunungan Qalamoun serta melakukan sweeping di kawasan yang menjadi titik kontak antara wilayah permukiman Brital Lebanon dan dataran tinggi Nahlah di wilayah pegunungan timur Lebanon.
Menurut al-Akhbar, Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah hari ini akan berbicara mengenai perkembangan situasi di Suriah, Yaman dan kawasan secara umum.
Minggu, 12 April 2015
Houthi Sedang Susun Rencana untuk Serang Saudi
Sindo - Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah mengaku mendapat kabar jika para pemimpin Houthi sedang merencanakan untuk melakukan serangan langsung terhadap Arab Saudi. Langkah ini diambil Houthi sebagai respon atas serangan bertubi-tubi yang dilakukan koalisi Teluk ke basis Houthi di Yaman.
Namun, menurut Nassralah, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (7/4/2015), sampai saat ini para pemimpin Houthi belum memutuskan apakah mereka akan melakukan serangan itu, dan kapan akan dilancarkan. Dalam pandangannya, serangan itu sangat mungkin terjadi karena Houthi memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
"Sampai sekarang, kepemimpinan yang bertanggung jawab atas aksi militer di Yaman belum memutuskan apakah akan menyebrangi selat Bab-el-Mandeb (yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden) dan meluncurkan serangan terhadap Arab Saudi, meskipun mereka memiliki kemampuan seperti itu," kata Nasrallah.
Di kesempatan yang sama, dIrinya kembali menyatakan bahwa Saudi dan sekutunya akan mengalami kekalahan yang memalukan jika terus melakukan serangan terhadap Yaman. Pemimpin Hizbullah itu menyerukan kepada Saudi untuk menghentikan serangan dan mulai menggunakan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik di Yaman.
Menurutnya, pertempuran di Yaman tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tapi oleh kekuatan rakyat. Ia meyakini, lama-kelamaan warga Yaman akan menentang pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dan justru berbalik mendukung Houthi.
Namun, menurut Nassralah, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (7/4/2015), sampai saat ini para pemimpin Houthi belum memutuskan apakah mereka akan melakukan serangan itu, dan kapan akan dilancarkan. Dalam pandangannya, serangan itu sangat mungkin terjadi karena Houthi memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
"Sampai sekarang, kepemimpinan yang bertanggung jawab atas aksi militer di Yaman belum memutuskan apakah akan menyebrangi selat Bab-el-Mandeb (yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden) dan meluncurkan serangan terhadap Arab Saudi, meskipun mereka memiliki kemampuan seperti itu," kata Nasrallah.
Di kesempatan yang sama, dIrinya kembali menyatakan bahwa Saudi dan sekutunya akan mengalami kekalahan yang memalukan jika terus melakukan serangan terhadap Yaman. Pemimpin Hizbullah itu menyerukan kepada Saudi untuk menghentikan serangan dan mulai menggunakan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik di Yaman.
Menurutnya, pertempuran di Yaman tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tapi oleh kekuatan rakyat. Ia meyakini, lama-kelamaan warga Yaman akan menentang pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dan justru berbalik mendukung Houthi.
Langganan:
Postingan (Atom)



